<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	
	>
<channel>
	<title>
	Komentar di: Puisi: Negeri Seribu Dimensi	</title>
	<atom:link href="https://jejakpanorama.com/2018/09/19/puisi-negeri-seribu-dimensi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://jejakpanorama.com/2018/09/19/puisi-negeri-seribu-dimensi/</link>
	<description>Setiap Jejak Selalu Punya Cerita</description>
	<lastBuildDate>Thu, 18 Aug 2022 05:16:46 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	
	<item>
		<title>
		Oleh: Puisi: Sang Penakluk - JEJAK PANORAMA		</title>
		<link>https://jejakpanorama.com/2018/09/19/puisi-negeri-seribu-dimensi/#comment-1120</link>

		<dc:creator><![CDATA[Puisi: Sang Penakluk - JEJAK PANORAMA]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 02 Mar 2022 08:53:28 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">https://jejakpanorama.com/2018/09/19/puisi-negeri-seribu-dimensi/#comment-1120</guid>

					<description><![CDATA[[&#8230;] admin 31 Oktober 2015     Ku pejamkan mata Kuarungi dunia kegelapan Aku tak tau  Akankah kubuka mata ini Aku tak tau Jalan apa yang kupilih nanti Aku  tak mau ambil resiko Kubuka mata perlahan-lahan Terpancar percikan cahaya Kututup mataku  lagi Ku tak sanggup membuka mataku Betapa  silaunya sinar itu Ku tak tau, jalan apa yang akan kunpilih nanti Manjadi orang baik Atau justru sebaliknya Aku mencobanya, dan aku ambil resikonya Kuberjalan perlahan-lahan Yap.. kudapatkan jalanku Aku berlari.. Kuberlari secepat mungkin karna aku senang Kuterus berlari Hingga akhirnya kuterjatuh Jatuh terprosok disanubari yang terdalam Aku tersadar Benar kata orang , penyesalan selalu datang terlambat Ku mencoba lagi Aku bangkit dari  penderitaan ini Ku terjatuh lagi Aku tak takut Aku tak akan putus asa Semua resiko ini harus ku hadapi Aku bangkit lagi Aku berjalan tertatih-tatih kedepan Suara rintihan ini adalah api Api yang membara, tiada satupun yang dapat memadamkanya Kuterus berjalan  Huuh, ini memang sulit Tapi pada akhirnya  Akulah sang penakluk    Baca juga: Puisi: Negeri Seribu Dimensi [&#8230;]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>[&#8230;] admin 31 Oktober 2015     Ku pejamkan mata Kuarungi dunia kegelapan Aku tak tau  Akankah kubuka mata ini Aku tak tau Jalan apa yang kupilih nanti Aku  tak mau ambil resiko Kubuka mata perlahan-lahan Terpancar percikan cahaya Kututup mataku  lagi Ku tak sanggup membuka mataku Betapa  silaunya sinar itu Ku tak tau, jalan apa yang akan kunpilih nanti Manjadi orang baik Atau justru sebaliknya Aku mencobanya, dan aku ambil resikonya Kuberjalan perlahan-lahan Yap.. kudapatkan jalanku Aku berlari.. Kuberlari secepat mungkin karna aku senang Kuterus berlari Hingga akhirnya kuterjatuh Jatuh terprosok disanubari yang terdalam Aku tersadar Benar kata orang , penyesalan selalu datang terlambat Ku mencoba lagi Aku bangkit dari  penderitaan ini Ku terjatuh lagi Aku tak takut Aku tak akan putus asa Semua resiko ini harus ku hadapi Aku bangkit lagi Aku berjalan tertatih-tatih kedepan Suara rintihan ini adalah api Api yang membara, tiada satupun yang dapat memadamkanya Kuterus berjalan  Huuh, ini memang sulit Tapi pada akhirnya  Akulah sang penakluk    Baca juga: Puisi: Negeri Seribu Dimensi [&#8230;]</p>
]]></content:encoded>
		
			</item>
	</channel>
</rss>
