Desa Kutuh, Wujudkan Kebersamaan dengan Moderasi Beragama
Jauh di pelosok Bali, terdapat desa yang tersembunyi namun memiliki permata indah di dalamnya. Bali yang saat ini sedang digempur dengan modernisasi tetapi tetap bertahan dengan adat dan budaya leluhur yang suci. Jauh dari itu, Desa ini masih menjaga jejak sejarahnya sendiri dengan kemurnian adat dan budayanya. Desa tersebut bernama Desa Kutuh, desa yang terletak di lereng gunung Batur ini memiliki hawa yang sejuk namun hangat akan kebersamaan warganya.
Mengenal Lebih Dekat Desa Kutuh

Desa Kutuh terletak di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Desa ini memiliki dua banjar yaitu Banjar Angan Sari dan Banjar Kutuh. Perjalanan menuju Desa Kutuh memerlukan waktu sekitar tiga jam dari Kota Denpasar. Medan yang sulit dan jalan yang cukup ekstrem menjadi tantangan tersendiri untuk dapat sampai ke desa ini. Ada dua alternatif jalan yang bisa digunakan. Pertama, melalui Desa Madenan, desa yang terletak di Tejakula, Buleleng ini menjadi jalan teraman yang bisa dilalui. Meskipun medan jalannya sedikit ekstrem namun tetap dapat dilalui oleh sepeda motor dan mobil. Kedua, kamu dapat menggunakan jalur alternatif perbukitan. Medan ini dapat dibilang ekstrem karena melalui beberapa tanjakan curam dan jalan yang sempit. Jalannya yang berada di tepi jurang memanjakan mata dengan hamparan perbukitan yang indah. Jalan ini akan tembus ke Jalan Sukawana yang akan menghubungkan pengemudi ke jalan utama.
Tidak disarankan bagi pengguna motor matic dengan cc rendah untuk melalui jalan perbukitan. Meskipun demikian, banyak yang memilih untuk menggunakan jalan perbukitan karena waktu tempuh yang lebih singkat. Kamu cukup menghabiskan waktu sekitar 20 menit untuk sampai ke Desa Kintamani. Jika kamu memilih dengan melewati Madenan, maka kamu akan menghabiskan waktu kurang lebih 45 sampai 60 menit untuk sampai ke lokasi.
Kondisi Sosial Warga Desa Kutuh
Meskipun berada di daerah perbukitan, Desa Kutuh memilki jarak bangunan yang cukup padat. Mayoritas masyarakatnya beragama hindu, dan sebagian lagi beragama islam. Rata-rata mata pencaharian masyarakat desa Kutuh adalah Berkebun, Buruh bangunan, bekerja keluar daerah dan juga menjadi TKI di luar negeri. Hasil perkebunan Desa Kutuh biasanya seperti cengkeh, alpukat, durian dan lain-lain.
Desa Kutuh memiliki akar budaya hindu yang kuat, mereka tetap melestarikan dan menjaga adat budaya yang telah diwariskan turun temurun. Uniknya, masyarakat muslim pun turut melengkapi tradisi tersebut sehingga menjadi akulturasi budaya yang menarik. Dengan budaya tersebut justru mempersatukan mereka dalam harmoni keberagaman.
Moderasi Beragama di Desa Kutuh
Sampai saat ini kerukunan masyarakat desa Kutuh masih terjaga satu sama lain. Ini menjadi wujud nyata terbangunnya nilai-nilai moderasi beragama dengan baik di Desa Kutuh. Menurut penuturan warga yaitu Pak Mustaqim -Ketua Takmir Masjid Nurul Iman Desa Kutuh- mereka selalu berupaya untuk selalu menjaga kerukunan sesama warga dengan beberapa aksi nyata.
- Musyawarah antar warga
Salah satu upaya yang dilakukan dalam menjaga nilai-nilai persaudaraan antar sesama warga, mereka selalu mengadakan musyawarah rutin bulanan antar warga lintas agama. Bale Banjar yang terletak tepat di depan masjid menjadi tempat warga melaksanakan kegiatan tersebut. Di sini mereka dapat meluapkan keluh kesah, saran atau persoalan yang dibahas bersama untuk diselesaikan bersama dengan baik. Pertemuan rutinan di internal umat hindu juga rutin dilakukan pada periode waktu tertentu.

- Melestarikan Akulturasi Budaya Setempat
Kebiasaan unik yang masih terjalin hingga saat ini adalah mereka tetap melestarikan budaya yang sudah ada sejak lama. Seperti megamel (bermusik khas Bali), pertemuan adat dan lain-lain. Meskipun megamel adalah tradisi yang ada di umat hindu, umat muslim juga turut berpartisipasi untuk memainkan alat musik tradisional bersama. Hal ini ternyata merujuk pada nilai sejarah umat islam pertama di Desa Kutuh yang dulunya pemuka hindu yang memutuskan untuk mualaf hingga keturunannya saat ini. Meskipun demikian baik antara umat hindu dan islam tetap hidup berdampingan satu sama lain.
Dengan adanya Desa Kutuh ini dapat menjadi contoh bahwa moderasi beragama bukanlah sekedar tajuk retorika belaka. Melainkan dapat menjadi sebuah praktik baik yang dapat diimplementasikan dimanapun kita berada. Desa Kutuh yang memiliki ikatan kuat dengan ikatan agamanya, namun tetap menjaga kerukunan dan toleransi beragama. Maka desa ini seyogyanya dapat menjadi desa percontohan yang dapat ditiru oleh desa-desa lainnya di Indonesia.



1 comment