Ibu itu Bukan Pengemis

Teringat beberapa hari yang lalu…

Entah kenapa saya tiba-tiba teringat kepada seorang ibu beberapa hari yang lalu menghampiri saya dengan wajah yang “ganjil” bagi saya. Awalnya waktu itu saya selesai makan siang di warung makan sederhana dibelakang kampus. Saat itu saya sedang berada di parkiran motor dan akan bergegas pergi. Dekat dengan motor yang saya parkir juga ada meja makan yang disana ada seorang pemuda yang sedang menunggu pesanannya datang. Namun, tiba-tiba datanglah seorang ibu-ibu kepada pemuda tadi dan mengobrol sebentar karena saya didekatnya akhirnya saya pun juga diikutkan dalam obrolan tersebut.

Seorang Ibu yang berpakaian lusuh..

            Sekilas ibu-ibu itu berpenampilan seperti biasa bekaos putih dan bercelana sampai melewati lutut. Sempat saya mengira bahwa beliau adalah seorang pengemis seperti biasanya. Hal ini dikarenakan dari pakaiannya yang lusuh dan beliau menggendong tas keresek putih transparan di lengan kirinya, disana terlihat beberapa uang pecahan Rp.5000, 10.000 dan 2000 dalam jumlah lumayan banyak. Awalnya ibu itu berbicara kepada pemuda yang ada di meja, spontan yang dilakukan pemuda itu langsung mengeluarkan dompet dan tentunya mengambil uang receh dan memberikannya ke ibu tersebut.

Dimana hal ganjil itu terjadi…

            Sembari hal tersebut, ibu itu langsung menoleh kepada saya dan mengajak saya mengobrol. Saya tidak jelas mendengar apa yang beliau katakan, yang sekilas saya dengar adalah beliau sedang membicarakan roti bekas yang diberikan oleh orang, karena waktu itu beliau bercerita sembari menunjuk jajan yang ia pegang di kresek putih tersebut. Spontan yang saya lakukan juga sama seperti yang dilakukan pemuda di meja makan tersebut, yaitu mengeluarkan dompet untuk mengambil uang receh untuk diberikan kepada ibu tersebut.

Kami semua juga bingung…

            Secara tidak sengaja, saya dan pemuda itu menyodorkan uang dengan jumlah yang sama secara bersamaan. Saya berusaha seramah mungkin memberikan uang itu terhadap ibu tersebut. Namun, disinilah hal ganjil yang saya rasakan itu. Ibu itu sempat terdiam dengan tatapan kosong lalu menghela nafas sebentar dengan pandangan kecewa kepada kami. Melihat wajah ibu yang kecewa itu, saya langsung berkata “Gimana bu, ibu maunya gimana?”. Namun pada saat itu ibu itu langsung begitu saja pergi meninggalkan kami yang kebingungan. Sempat saya bertanya kepada pemuda itu, dia juga bingung apa yang diinginkan ibu itu kepadanya. Begitu juga dengan saya dan ibu penjual di warung makan itu, sempat kami bertiga berbicara sebentar dan membicarakan hal tersebut. Setelah itu pembicaraan selesai dan kami pun melanjutkan aktivitas masing-masing.

            Dari penggalan kisah yang saya alami diatas, saya tiba-tiba teringat kejadian tersebut.. karena banyak asumsi-asumsi yang muncul dibenak saya apa sebenarnya yang diinginkan ibu tersebut. Dengan suaranya yang pelan membuat saya kesulitan mendengar secara pasti apa yang beliau bicarakan. Semoga beliau sehat selalu dimanapun beliau berada.

Btw warung makan ini adalah salah satu warung makan favorit saya yang ada di Malang, kalau teman-teman bersedia saya akan tulis di postingan selanjutnya tentang Warung Makan satu ini ya. Terima kasih telah berkunjung..

0 thoughts on “Ibu itu Bukan Pengemis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *