Kita Menjadi Ikan

Ketika Kita Menjadi Ikan

Berikut ini cerpen yang berjudul Ketika Kita Menjadi Ikan oleh M. Dzikrullah.

Ikan-ikan kecil beranekaragam warnanya berenang di sebuah toples plastik berukuran sedang. Jari telunjuk Bima sibuk menghitung ikan satu-persatu, sedangkan aku membersihkan kakiku yang penuh dengan lumpur di parit pinggir gubuk kecil tempat biasa kami bermain.

“Tujuh belas” teriak Bima.

“Wah! Banyak banget hasil tangkapan kita hari ini ya, Bim. Ikannya cantik-cantik lagi” sahut Nara.

“Iya dong, Ra. Siapa dulu yang jago nangkepin ikannya, ya tentunya Aku dong, hahaha” jawab Bima.

“Enak aja kamu, Bim. Aku yang sampai kotor-kotoran gini malah kamu yang ngaku-ngaku” sahutku.

“Hehehe, Gak kok, Ram. Bercanda aja, ini kan hasil menangkap ikan bareng-bareng”

“Sudah-sudah! Sekarang ikannya biar aku saja yang bawa ya. Di kamarku ada aquarium, biar ikannya nanti ditaruh di sana saja. Sekarang sudah sore, ayo pulang! Besok pulang sekolah kita main bareng lagi ya” Jawab Nara.

“Ok!” jawab kami kompak.

Namaku Rama, bocah petualang dari Desa Maringgi. Desa yang cukup pelosok di daerah Malang Selatan. Kami bertiga yaitu Aku, Bima dan Nara adalah teman sedari kecil bahkan dari bayi pun kami sudah bersama. Kami tinggal di Panti Asuhan Permata Hati milik desa setempat. Tak banyak jumlah anak-anak yang diasuh di panti ini, sekitar 15 anak dan termasuk kami bertiga. Setiap bulan selalu ada saja anak baru yang bertambah entah karena mereka yatim piatu sejak kecil atau memang kedua orang tua yang tak mampu membiayai mereka. Kami bertiga mempunyai kisah kelam masing-masing, kami menyadari itu. Maka kami bertiga pun menjalin pertemanan yang saling menguatkan satu sama lain.

Suatu hari kami semua terheran-heran, melihat sebuah Mercedez Benz hitam mengkilap memarkir mobilnya di halaman panti kami. Semua mata melongo melihat mobil tersebut, seperti melihat tontonan yang mungkin hanya pertama kali dilihat dalam hidup mereka.

Keluar seorang wanita paruh baya mengenakan rok merah panjang, dengan jaket tebal hitam di bahunya. Ia berjalan perlahan menuju kantor panti untuk menemui Pak Marso, Bapak asuh kami. Kami saling menoleh satu sama lain, siapakah di antara kami selanjutnya yang akan diadopsi kali ini. Seperti biasa, kami bertiga berada di taman belakang, Nara memangku aquarium yang berisi ikan-ikan kecil yang cantik nan indah itu. Kami sangat menyukai ikan, mereka bebas berenang kemana saja yang mereka mau.

“Kita ini layaknya ikan…” cetus Bima sembari melihat ikan berenang dengan seksama.

“Hah? Kenapa begitu, Bim?” tanyaku penasaran.

“Iya, Ram. Lihat saja mereka, berada di dalam toples dan tidak bisa kemana-mana. Namun, mereka selalu bersama seperti kita” jawab Bima.

“Ketika berada di samudera lepas, ikan juga akan terus berenang melawan arus, memecah air hingga ia sampai ke titik pusat air. Mereka pun akan terus bersama hingga mampu meraih titik pusat itu.”Nara menambahi.

“Kita adalah ikan, karena kita akan selalu bersama menghadapi setiap rintangan dan meraih kesuksesan” sahutku.

“Janji?” Nara menyodorkan jari kelingkinnya yang mungil.

“Janji!” jawabku kemudian disusul Bima.

Tiba-tiba, Pak Marso datang..

“Bima, ayo ikut Bapak ke kantor, Nak”

“Iya, sebentar Abah. Bima mau cuci tangan dulu” 

Selama dua jam lamanya, Bima berada di ruangan tersebut bersama Pak Marso dan Ibu paruh baya tersebut. Iya, Bima kini akan berubah nasibnya, ia yang dulu senang bermain di sawah yang kumal dan suka bermain layangan bersama kami. Kini ia akan diadopsi oleh seseorang konglomerat yang dinyatakan tidak dapat hamil oleh dokter. Nasibnya sungguh beruntung, ia akan hidup enak menjadi seorang raja yang dilayani oleh para babu mereka. Kepalaku tak habis berfikir menjadi sosok Bima tersebut, akhirnya ia benar-benar akan menjadi anak yang spesial.

“Jangan khawatir, rumah yang akan aku tinggali ndak jauh kok, kalian nanti bisa main-main ke rumah baruku ya!” seru Bima.

“Tentu dong, kamu jangan pernah lupain kami ya, Bim”

“Kita Sobat Ikan!” Nara meyahut.

“Yap, Sobat Ikan” kami berpelukan haru.

Sebulan lamanya tanpa Bima di panti asuhan, aku dan Nara melihat ikan yang mulai tumbuh dewasa, kami berencana melepasnya di parit sepulang sekolah nanti. Namun, hari-hari yang kami lewati tidak sama seperti dulu lagi. Tidak ada lagi tertawa bersama, menangkap ikan bersama, dan berlari-lari menyusuri sawah bersama-sama. Aku dan Nara masih tetap sama dan begitu pun dengan Bima, akan menjadi sobat ikan yang selalu menghadapi setiap rintangan hingga meraih cita-cita pun bersama.

6 Tahun kemudian …

Aku sekolah di SMA swasta dekat dengan pantiku, sudah enam tahun lamanya setelah Bima pergi dari panti. Aku dan Nara masih tetap sama, menjalin persahabatan yang tentu belum lengkap rasanya tanpa kehadiran Bima. Ia berjanji akan mengunjungi kami di panti. Namun, hari berganti minggu, minggu berganti bulan, hingga enam tahun lamanya ia tak kunjung datang ke panti. Bagaimana keadaannya sekarang ya? Semoga ia masih menjadi Bima yang kami kenal seperti dulu.

Aku dan Nara sedang menyiapkan perlombaan pekan depan, sebuah perlombaan sains yang diselenggarakan oleh pusat riset dan teknologi Kota Malang. Aku dan Nara mewakili sekolah akan mempresentasikan hasil penelitian kami yaitu penggunaan peraian sawah sebagai lahan perikanan Ikan Mujair sekaligus irigasi sawah. Kami telah mempersiapkannya sejak sebulan yang lalu dan berharap bisa meraih juara pada kompetisi kali ini.

Sebuah angkutan umum berlabel AL berhenti di depan Balai Kota, Aku dan Nara keluar dari angkutan dengan membawa beberapa tumpukan buku dan kertas di lengan kananku. Kami langsung masuk ke dalam, karena grand opening  sebentar lagi akan segera dimulai. Kaki kami terhenti melangkah ketika sebuah mobil hitam mengkilap lewat di depan kami. Mobil yang tidak asing bagiku, begitu pula dengan Nara. Mobil itu mengingatkan kami akan kenangan silam enam tahun dahulu, sebuah memori yang masih kami pendam dan menjadi misteri akan seorang manusia yang selalu terbayang di antara kami. Sebuah Mercedez Benz langsung menuju depan pintu masuk Balai Kota, kemudian mobil itu menuju ke tempat parkir di belakang gedung. Tiga orang keluar dari mobil itu, salah satu laki-laki di antara mereka tak asing bagi kami, walaupun penampilannya kini lebih necis dan klimis, kami tetap mengenali setiap gerak-geriknya tersebut.

“Bima! Ra, itu Bima, Ra!” Sahutku setengah teriak.

“Beneran? Yang mana, Ram?” balas Nara setengah kaget

“Itu, Dia mau masuk ke dalam”.

“Eh, iya beneran, Ram. Ayo samperin!” Nara mempercepat langkah dan menarik lenganku.

Aku dan Nara senang sekali, selama enam tahun lamanya kita tidak bertemu dan kali ini adalah kesempatan emas untuk bertemu Bima, bagaimana kabarnya ya, nampaknya ia sangat bahagia dengan kehidupan barunya. Aku tak menyadari, ribuan orang hadir dalam acara ini. Pintu masuk benar-benar penuh dengan pelajar lainnya. alhasil aku pun tak dapat menghampiri Bima.

Selama pembukaan dimulai aku dan Nara fokus melihat bangku peserta, tiap wajah dan kursi aku pandangi satu persatu. Namun, sayangnya aku tidak mendapatinya sama sekali. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk menunggu di mobilnya selepas acara selesai. Tak sampai satu jam kami menunggu, datang tiga orang menuju mobil tersebut, kami tak asing dengan salah satu orang yang ada di antara mereka “Bima”. Sosok sahabat kami yang hilang selama enam tahun dan seakan-akan takdir tuhan mempertemukan kami lagi di hari bahagia ini.

“Bima, Gimana kabarmu, Bim?” Teriak Nara bahagia.

“Iya, Bim. Makin tambah ganteng aja lu sekarang, Bim” Celetukku.

Mereka bertiga spontan berbalik badan, aku menangkap raut wajah aneh di antara mereka bertiga. Bima setengah kaget melihat kami, namun kali ini aku melihat reaksinya yang berbeda kepada kami. Salah satu temannya berkata.

“Bima, elu maksudnya, Bim? Kok, elu bisa kenal sama orang-orang udik ini, Bim, hahaha” kedua teman Bima tertawa terbahak-bahak.

“Ah, elu Roy. Mereka itu…..” Bima memberhentikan kalimatnya dan melangkah lebih dekat kepada kami.

“Maaf ya, mungkin kalian salah orang, atau mungkin gua cuma mirip seperti teman yang kalian maksud. Nama gua Abim bukan Bima. Gua gak kenal kalian apalagi orang yang namanya Bima. Mungkin dia sudah tidak ada lagi di dunia ini. Sudah, kalian jangan ganggu hidup gua lagi, kita sudah punya kehidupan masing-masing. Pergi sana, enyah dari depan gua!” Teriak Bima.

Deg, sebuah sumpah serapah yang tidak kami harapkan muncul dari mulut sahabat kami. Aku benar-benar kecewa, ia ternyata sudah melupakan kami, lebih tepatnya sudah tidak mau berteman dengan kami lagi.

“Gak! Aku tau kamu, Bima. Kenapa sih, Bim. Kita sudah enam tahun nggak ketemu. Sekarang kamu jadi berubah kayak gini. Masih ingat gak sih kamu dengan sobat ikan yang pernah kita janjikan dulu? Kamu Bima kan? Aku masih ingat kamu Bima!” tak terasa air mata Nara jatuh perlahan di pipi kanannya.

“Sudah, Ra. Kita pulang saja. Dia sudah punya dunianya sendiri. Kita hanya masa kelam dalam hidupnya. Dia bahkan gak tau arti persahabatan yang sesungguhnya.” Sahutku sembari memegang tangan Nara.

Aku dan Nara pulang dengan amarah dan kekecewaan, kami tak menyangka Bima yang kami kenal dulu akan berubah seperti itu.

“Kenapa orang kaya selalu begitu, memiliki teman miskin menjadi aib bagi mereka. Apakah semuanya selalu dinilai dengan harta, sungguh rendah sekali ia memandang sebuah persahabatan, justru bukan rasa kebersamaan dan kasih sayang yang selama ini telah kita bangun bersama” dalam hatiku mengutuk Bima.

Sebuah mobil melewati kami, iya itu mobil Bima dan kawan-kawan hedonnya itu. Aku lihat sekilas di balik kaca gelap itu, mereka bertiga sedang menertawakanku. Sekali lagi, Bima benar-benar sudah berubah. Di persimpangan jalan ketika mobil itu melesat cepat, sebuah truk besar dari arah berlawanan melaju pesat “Bruaakkk”. Sebuah tabrakan hebat terjadi.

“Ra, Bima, Ra!”

“Bima!!!”

Aku dan Nara langsung menuju persimpangan, truk itu menabrak sisi kiri mobil Bima tepat di mana Bima duduk. Ku buka mobil, melihat dan memastikan Bima. Terlihat seseorang yang sedang duduk lemas yang masih terikat sabuk pengaman, ternyata Bima yang kepalanya mengalami pendarahan hebat. Aku langsung menyelamatkannya. Nara yang tak kuasa menahan tangis, memberhentikan paksa mobil yang ada di tengah jalan untuk mengantar Bima ke rumah sakit.

Sesampainya di rumah sakit, Bima tak sadarkan diri dan mengalami pendarahan hebat. Dokter berkata bahwa Bima kehabisan  banyak darah, ia harus segera mendapatkan donor darah.

“Saya saja, Pak. Golongan darah saya sama seperti Bima” sahutku

Sudah dua hari, Bima tergeletak di kasur tak sadarkan diri. Selama dua  hari pula kami menemani Bima di rumah sakit. Teman-teman Bima tak terluka parah, ada yang sehat bahkan luka ringan saja. Sejak hari pertama kecelakaan itu aku tak pernah melihat batang hidung mereka di sini.

Setelah dua hari koma, Bima pun sadar kembali. Ia melihat kami berdua yang sedang tertidur pulas di sebelahnya. Ia menangisi dirinya yang mengabaikan temannya sendiri, ia sadar siapa teman dekatnya yang sebenarnya.

“Rama, Nara.. Terima kasih ya sudah menyelamatkanku. Aku memang orang jahat, yang pura-pura tidak mengenal kalian. Aku minta maaf, atas semua yang terjadi sebelumnya. Kalian memang sahabatku” lirih Bima.

“Nggak, Bim. Sampai kapanpun kamu tetep jadi bagian dari kami. Kita sudah memaafkanmu sebelum kamu meminta maaf. Kamu istirahat dulu, biar aku panggilkan dokter dulu ya” Sahut Nara.

Pada suatu masa, ikan pasti pernah tersesat dari gerombolannya, hingga akhirnya ia menemui gerombolan ikan baru dan mengikutinya. Namun, pada akhirnya ia akan menemui gerombolan aslinya dan akan terus bersama. Ketika kita menjadi ikan, sebuah persahabatan akan terus terjalin hingga ia benar-benar berkomitmen untuk saling menjaga, saling membantu, dan selalu bersama. Setiap rintangan dan tantangan akan sangat mudah dirasakan, jika dilakukan secara bersama-sama. Terima kasih, Sahabat untuk setiap kebersamaan yang telah dilalui, kita tetap sahabat untuk saat ini, esok dan nanti.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.