TPS3R Sapuh Jagad sebagai Wujud Penguatan Ekoteologi di Desa Gulingan
Bali yang semakin hari memiliki berbagai polemik sampah yang tiada henti. Di balik keindahan alam dan wisatanya, sampah masih menjadi permasalahan yang belum terealisasi hingga akarnya. Tentu ini menjadi tugas bersama antara pemerintah dan masyarakat dalam menyelesaikan masalah sampah. Konsep Ekoteologi hadir menjadi perubahan mindset dasar manusia agar dapat menumbuhkan kesadaran diri bahwa menjaga alam adalah salah satu ajaran yang tidak lepas dari nilai-nilai agama. Maka TPS3R Sapuh Jagad hadir menjadi solusi pemilahan sampah dan pengolahan sampah menjadi lebih efektif.
Konsep Ekoteologi

Ekoteologi merupakan suatu istilah yang berasal dari dua kata yaitu eco dan teologi. Eco secara sederhana berarti alam. Sedangkan teologi adalah konsep ajaran ketuhanan. Maksudnya adalah bahwa menjaga dan merawat alam merupakan bagian dari konsep ketuhanan dengan tujuan untuk merawat dan menjaga alam yang merupakan bagian dari keimanan.
Melalui konsep ini manusia memiliki peran penting dalam menanamkan pandangan bahwa manusia dan alam merupakan satu ikatan yang kuat dalam keberlangsungan hidup di muka bumi. Maka manusia seharusnya hidup berdampingan selaras dengan alam dan menjamin keberlangsungan hidupnya dengan memberikan haknya sebagai makhluk hidup yang sama.
Problematika di Masyarakat
Faktanya, praktik baik di atas masih belum sejalan dengan realita yang terjadi saat ini. Bencana alam yang terjadi bukanlah murni atas keinginan dari alam itu sendiri. Melainkan respon yang alam berikan atas ulah manusia itu sendiri. Banjir, Tanah longsor dan beberapa contoh bencana alam yang terjadi merupakan wujud dari tidak bijaknya manusia dalam menjaga alam.
Hal tersebut tentu terjadi dari tangan-tangan manusia yang merasa menjadi penguasa akan alam, sehingga merasa leluasa untuk menebang pohong, membuang sampah sembarangan, pembuangan limbah ke sungai dan contoh-contoh praktik tidak baik yang dilakukan manusia saat ini.
Solusi Nyata bagi Setiap Individu
Maka dari itu kita sebagai manusia yang beragama, maka sudah seyogyanya menjalankan ajaran-ajaran agama sebagai nilai-nilai kehidupan utamanya dalam merawat lingkungan. Merubah paradigma dan menanamkan kesadaran adalah satu langkah penting untuk memulai perubahan hidup yang lebih baik.
- Kesadaran diri
Langkah awal yang penting bagi diri sendiri untuk memunculkan kesadaran bahwa tiap individu memiliki peran penting dalam merawat alam. Kesadaran diri juga mengidentifikasi diri masing-masing apakah kita selama ini menjadi penyebab kerusakan alam atau justru menjadi solusi dalam menjaga alam.
2. Kesadaran Spritual
Menanamkan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari menjadi nilai penting dalam menjaga alam. Setiap apa yang manusia lakukan, maka agama menjadi benteng pondasi dalam menjalani kehidupan. Maka sepatutnya manusia menerapkan nilai ajaran agama tidak hanya secara vertikal saja namun juga secara horizontal dengan senantiasa mengaktualisasikan nilai hablumminallah, hablumminannas, dan hablumminal alam dalam kehidupan sehari-hari.
3. Kesadaran Spasial
Kita meyakini bahwa alam semesta dan manusia adalah suatu keterikatan yang saling menyatu. Maka jika terjadi kehancuran di antara satu dan lain hal maka semua akan terkena dampak dari apa yang dilakukan. Maka sebagai umat manusia kita seharusnya selalu hidup berdampingan dan menjaga keseimbangan alam.
TPS3R Sapuh Jagad Desa Gulingan

Saat ini kita mengenal istilah TPS3R atau kata yang merupakan singkatan dari Tempat pengolahan sampah (Reduce, Reuse, Recycle) merupakan wujud penguatan ekoteologi yang secara nyata memberikan solusi dalam menjaga alam. Tempat ini hadir memberikan konsep pengolahan sampah yang baik sehingga hasil yang didapatkan tidak hanya mengurangi problematika sampah namun juga memberikan manfaat bagi masyarakat itu sendiri.
Berawal dari keresahan warga akan permasalahan sampah di desa, maka perlu adanya tempat dan sistem pengolahan sampah yang maksimal. Tidak hanya mengurangi efek sampah yang menumpuk namun juga mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat itu sendiri. Maka Kepala Desa Gulingan Bapak I Ketut Winarya menginisiasi berdirinya TPS3R Sapuh Jagad ini. Tidak kalah penting, membersamai Bapak Kades, Bapak I Made Adi Adnyana turut hadir menginisiasi sistem pengolahan sampah modern ini sehingga memberikan solusi positif dalam penanganan sampah di Desa Gulingan.
Strategi Pengolahan Sampah di TPS3R Sapuh Jagad
Sistem pengolahan sampah yang baik tidak serta merta terjadi dalam sekejap mata. Pak Adi menggodok sistem pengolahan sampah yang baik ini bersama masyarakat agar terwujudnya ekosistem pengolahan sampah baik dari lini pemerintah, masyarakat dan TPS3R. Maka strategi yang dihadirkan adalah sebagai berikut.
- Mengubah mindset TPA menjadi TPS yang indah dan bernilai estetik, sehingga menghilangkan kesan kumuh pada TPS
- Armada pengambilan sampah yang baik
- Pewadahan sampah di setiap rumah beserta identitas nama
- Pengolahan sampah organik menjadi pupuk kompos, eco enzym
- Penanaman bibit tanaman yang nantinya diberikan kepada masyarakat secara gratis
- Pembentukan kader di setiap banjar
Tentu perjalanan TPS3R Sapuh Jagad ini masih memiliki waktu yang panjang untuk berinovasi dan terus berdampak menyelsaikan masalah sampah saat ini. Namun, konsep pengolahan sampah yang telah hadir saat ini mampu menjadi angin sejuk sebagai sistem pengolahan sampah acuan bagi desa-desa lainnya di Pulau Bali.
Dampak nyatanya terlihat ketika kita mengunjungi Desa Gulingan ini, di setiap sudut desa terlihat asri dan bersih. Warga pun mendapat banyak manfaat atas pilihan hidup yang mereka pilih, mulai dari bibit tanaman hingga pupuk yang mereka dapatkan untuk kebutuhan bahan pertanian. Desa teladan ini juga mendapat perhatian khusus oleh Menteri Lingkungan Hidup dan mendapat apresiasi penghargaan dari pemerintah.
Mudah-mudahan TPS3R ini mampu menjadi pelopor pengolahan sampah bagi desa lainnya sehingga muncul tempat pengolahan sampah yang mampu menjadi solusi permasalahan sampah saat ini. Terlepas dari hal tersebut, utamanya kita sebagai manusia dapat menanamkan nilai-nilai ekoteologi dalam hidup kita sehingga muncul kesadaran diri untuk merawat lingkungan yang selaras dengan nilai-nilai ajaran agama yang dianut.












Post Comment